Rabu, September 19, 2007

Nol Mutlak : Apa Maksudnya?

(kisah berikut ini hanya rekaan. Jika ada nama orang atau tempat yang sama itu hanyalah kebetulan belaka)

Alkisah seorang mahasiswa bertanya kepada dosennya:"Apa sih perbedaan antara Variabel Interval dan Ratio? Apakah hanya ada atau tidaknya nilai nol?"

Sang dosen pun mengangguk-angguk setengah mengantuk (karena semalam baru saja main game PC terbaru). Dengan gaya Kogoro Tidur sang dosen pun menjawab,"Ya perbedaan utamanya terletak pada nilai nol mutlak."

"Tapi apa maksudnya nilai nol mutlak? Bukannya semua pengukuran interval ya punya nilai nol?" mahasiswa ini mengejar.
"Benar. Bisa dibilang semua skala pengukuran interval memiliki nilai nol, tetapi bukan nilai nol mutlak", dosen itu hening sejenak.
"Lalu?" mahasiswa itu bertanya lagi, kuatir ditinggal tidur oleh sang dosen.
"Nilai nol mutlak itu maksudnya...jika suatu atribut memiliki kuantitas sebanyak nol, maka dapat dikatakan atributnya tidak ada atau nol...nihil...zip. Selain itu jika atribut tersebut diukur dengan menggunakan berbagai macam unit pengukuran yang berbeda-beda hasilnya akan tetap nol", dosen pun mulai membuka mata seolah telah kembali dari dunia yang lain.
"Maaf, Pak. Bisakah memberi contoh?" mahasiswa itu bertanya lagi.
"Ng...contohnya...jam berapa sekarang?" tiba-tiba sang dosen bertanya. Mahasiswa itu sedikit gelagapan melihat jam tangannya, tidak menyangka akan ditanya seperti itu.
"Eh...anu pak...jam 12 siang. Bapak ada janjian? atau mengajar?"
"Oh...nggak. Cuma heran saja kok sudah lapar...", jawab sang dosen tanpa merasa bersalah,"ternyata memang jamnya makan siang."
Mahasiswa pun hanya bisa diam, bengong tidak percaya apa yang dilihatnya,"Ini nih dosen yang dibilang pinter statistik?" pikirnya dalam hati.

"Contohnya begini",sang dosen sekarang mulai pasang tampang serius,"Contoh klasik tapi sangat manjur. Suhu. Misalnya kita mengukur suhu dengan menggunakan derajat celcius. Dalam skala ini tentu saja ada nilai nol derajat celcius bukan? Tapi nol derajat celcius tidak berarti tidak ada suhu sama sekali. Memang sih dingin buangett tapi bukan berarti tidak ada suhu sama sekali. Buktinya? Kalau kita menggunakan unit pengukuran yang lain, misalnya Fahrenheit maka kita akan mendapatkan angka 32 derajat. Oleh karena itu suhu termasuk dalam skala interval bukan ratio karena nilai nolnya bersifat relatif. Nilai nol dalam derajat celcius hanya berarti satu derajat lebih rendah dari 1 derajat celcius".
Mahasiswa sekarang manggut-manggut, mulai mengerti...sepertinya...


"Berbeda dengan berat," sang dosen melanjutkan,"berat memiliki nilai nol mutlak. misalnya ada meja dengan berat nol kilogram. Nilai nol disini benar-benar bermakna nol, tidak ada, meja itu tidak memiliki berat sama sekali, nol. Selain itu jika kita menggunakan unit pengukuran yang lain, misalnya pon atau ons, semua akan mengatakan hal yang sama bahwa berat meja ini nol pon atau nol ons. Dalam hal ini berat memiliki skala pengukuran ratio karena memiliki nilai nol mutlak."

Mahasiswa itu pun mengangguk-angguk mengerti. Dalam hatinya ia mulai mengakui kalo dosen ini mungkin memang layak dianggap pinter statistik.
Ia pun menjawab,"Oh begitu ya,Pak. Ya ya saya mengerti sekarang.Terima kasih ya,Pak"
"Ya, anytime," jawab dosen itu.
"Cieh sok kebarat-baratan banget,"pikir mahasiswa itu.
"Saya pamit dulu ya,Pak. Lain kali saya tanya-tanya lagi", mahasiswa itu pun pamit.
"Eh tunggu sebentar."
"Iya,Pak?"
"beli capcay yang enak deket kampus di mana ya?"

Siang itu beberapa mahasiswa berbincang dekat lorong fakultas, sementara sang mahasiswa masih bingung dalam hatinya,"benarkah dosen ini pinter statistik?".....

Senin, September 17, 2007

Uji Asumsi 1: Uji Normalitas Regresi

Adakah yang berbeda dari uji normalitas pada regresi?
Sebenarnya tidak banyak berbeda dari uji normalitas dalam analisis lain, hanya saja dalam regresi yang diuji normalitas bukan skor variabel dependennya, melainkan residu atau errornya.

Praktek yang selama ini terjadi (setahu saya), ketika peneliti menguji normalitas sebaran dalam regresi, yang diuji adalah variabel dependennya. Hal ini kurang tepat, karena dalam pengujian hipotesis nol dari regresi (uji signifikasi) yang dibutuhkan adalah normalitas sebaran residunya bukan normalitas sebaran variabel dependennya (Pedhazur,1997).

Tapi apa sih yang dimaksud residu atau error?

Teknik regresi akan menghasilkan persamaan regresi. Persamaan regresi dalam sampel akan berwujud : Y'= a + bX (beberapa buku menuliskan dengan notasi yang berbeda). Nah Y' (prediksi dari Y) ini tidak selalu sama besarnya dengan Y yang dihasilkan dari data penelitian. Ini diakibatkan Y' hanyalah prediksi nilai Y yang didasarkan pada X, dan setiap prediksi akan mengandung error dalam jumlah tertentu. Semakin besar error yang dihasilkan berarti semakin buruk prediksi yang dilakukan, dan sebaliknya.

Dari penjelasan di atas dapat ditemukan cara mencari error ini untuk tiap subjek; yaitu:
e=Y'-Y
Nah nilai e inilah yang diasumsikan mengikuti distribusi normal bukan nilai Y nya.
(penjelasan menyeluruh mengenai regresi akan dibahas dalam posting tersendiri).

Uji Normalitas Residu dalam SPSS

Ada beberapa tahap yang perlu dilakukan untuk melakukan Uji Normalitas Residu dalam SPSS

1. Menghitung nilai residu untuk tiap subjek. Menghitung? tenang saja, yang saya maksud bukan kita menghitung satu-satu residu dari tiap subjek, tapi memerintahkan SPSS untuk menghitung nilai residu dari tiap subjek. Begini caranya :
Pertama kita pilih Analyze - Regression - Linear

sehingga akan muncul dialog box seperti berikut :

Anggap saja kita hendak melakukan penelitian untuk mengetahui prediksi kecemasan dari inteligensi seseorang. Oleh karena itu dalam kotak Dependent kita masukkan variabel cemas, dan dalam kotak Independent kita masukkan variabel iq.

Setelah variabel diletakkan pada tempatnya, kita mengklik tombol Save untuk memerintahkan SPSS menghitung nilai residu.
Dalam kotak ini kita perlu mengklik Unstandardized dalam kotak Residuals untuk memerintahkan SPSS menghitung residu. Kemudian klik Continue dan OK. Maka SPSS akan menampilkan hasil analisis regresi. Lalu di mana nilai residu untuk tiap subjek?
Nilai residu ini ditempatkan dalam tampilan data view dalam satu kolom tersendiri seolah-olah manjadi variabel baru dengan nama Res_1.

2.Nah selanjutnya kita tinggal melakukan uji normalitas seperti kita melakukan uji normalitas pada umumnya. Kalau kamu lupa, kamu bisa lihat posting sebelumnya mengenai Uji Normalitas dalam SPSS

OK demikian kiranya melakukan uji normalitas pada residu. Saya masih menanti pertanyaan dari anda semua.

Further Readings
  • Pedhazur,E.J.(1997) Multiple regression in behavioral research. Wadsworth:Thomson Learning

Minggu, September 16, 2007

Uji Asumsi 1 : Uji Normalitas dalam SPSS

Dua post saya terdahulu tentang Uji Asumsi 1 berbicara hal-hal teoritis mengenai uji normalitas. Sekarang bagaimana prakteknya? Maksud saya dengan praktek tentu saja bagaimana cara menghitungnya.

Dalam kesempatan ini saya akan banyak berbicara mengenai bagaimana cara melakukan uji normalitas menggunakan SPSS. Saya memilih SPSS dengan alasan program ini paling banyak dipakai oleh mahasiswa psikologi sehingga bisa dikatakan paling familiar. Selain itu SPSS termasuk program yang cukup user friendly sehingga cukup mudah digunakan meskipun oleh orang yang tidak mempelajari statistik sangat dalam.

Langkah Awal
Saya berasumsi paling tidak pembaca artikel ini adalah orang yang sudah pernah berurusan dengan SPSS. Paling tidak tahu bagaimana memulai SPSS dan membuka file. Jadi saya akan langsung berkisah mengenai cara melakukan analisis datanya.

Cara Pertama
Ada satu kebiasaan yang saya amati ketika teman-teman hendak melakukan uji normalitas dengan SPSS. Biasanya mereka memilih menu :

Analyze - Non Parametrik Test - 1 Sample KS

Setelah diklik pada menu ini, akan muncul dialog box seperti ini:

Sekarang yang kita lakukan hanya memasukkan variabel yang ingin kita uji normalitasnya ke dalam kotak Test Variable List. Kemudian klik OK. Hasil yang akan didapat kurang lebih seperti ini:

Lalu bagaimana cara membacanya? Untuk kepentingan uji asumsi, yang perlu dibaca hanyalah 2 item paling akhir, nilai dari Kolmogorov-Smirnov Z dan Asymp. Sig (2-tailed).
  • Kolmogorov-Smirnov Z merupakan angka Z yang dihasilkan dari teknik Kolmogorov Smirnov untuk menguji kesesuaian distribusi data kita dengan suatu distribusi tertentu,dalam hal ini distribusi normal. Angka ini biasanya juga dituliskan dalam laporan penelitian ketika membahas mengenai uji normalitas.
  • Asymp. Sig. (2-tailed). merupakan nilai p yang dihasilkan dari uji hipotesis nol yang berbunyi tidak ada perbedaan antara distribusi data yang diuji dengan distribusi data normal. Jika nilai p lebih besar dari 0.1 (baca posting sebelumnya) maka kesimpulan yang diambil adalah hipotesis nol gagal ditolak, atau dengan kata lain sebaran data yang kita uji mengikuti distribusi normal.
  • Jangan terkecoh dengan catatan di bawah tabel yang berbunyi Test distribution is Normal. Catatan ini tidak bertujuan untuk memberitahu bahwa data kita normal, tetapi menunjukkan bahwa hasil analisis yang sedang kita lihat adalah hasil analisis untuk uji normalitas.
Cara Kedua
Cara yang pertama biasanya menghasilkan hasil analisis yang kurang akurat dalam menguji apakah sebuah distribusi mengikuti kurve normal atau tidak. Ini disebabkan uji Kolmogorov Smirnov Z dirancang tidak secara khusus untuk menguji distribusi normal, tetapi distribusi apapun dari satu set data. Selain normalitas, analisis ini juga digunakan untuk menguji apakah suatu data mengikuti distribusi poisson, dsb.

Cara kedua merupakan koreksi atau modifikasi dari cara pertama yang dikhususkan untuk menguji normalitas sebaran data.

Kita memilih menu
Analyze - Descriptive Statistics - Explore...

Sehingga akan muncul dialog box seperti ini:

Yang perlu kita lakukan hanyalah memasukkan variabel yang akan diuji sebarannya ke dalam kotak Dependent List. Setelah itu kita klik tombol Plots... yang akan memunculkan dialog box kedua seperti ini:

Dalam dialog ini kita memilih opsi Normality plots with tests, kemudian klik Continue dan OK. SPSS akan menampilkan beberapa hasil analisis seperti ini:

SPSS menyajikan dua tabel sekaligus di sini. SPSS akan melakukan analisis Shapiro-Wilk jika kita hanya memiliki kurang dari 50 subjek atau kasus. Uji Shapiro-Wilk dianggap lebih akurat ketika jumlah subjek yang kita miliki kurang dari 50.

Jadi bagaimana membacanya? Kurang lebih sama seperti cara pertama. Untuk memastikan apakah data yang kita miliki mengikuti distribusi normal, kita dapat melihat kolom Sig. untuk kedua uji (tergantung jumlah subjek yang kita miliki). Jika sig. atau p lebih dari 0.1 maka kita simpulkan hipotesis nol gagal ditolak, yang berarti data yang diuji memiliki distribusi yang tidak berbeda dari data yang normal. Atau dengan kata lain data yang diuji memiliki distribusi normal.

Cara Ketiga
Jika diperhatikan, hasil analisis yang kita lakukan tadi juga menghasilkan beberapa grafik. Nah cara ketiga ini terkait dengan cara membaca grafik ini.
Ada empat grafik yang dihasilkan dari analisis tadi yang penting juga untuk dilihat sebelum melakukan analisis yang sebenarnya, yaitu:
  • Stem and Leaf Plot. Grafik ini akan terlihat seperti ini:
Grafik ini akan terlihat mengikuti distribusi normal jika data yang kita miliki memiliki distribusi normal. Di sini kita lihat sebenarnya data kita tidak dapat dikatakan terlihat normal, tapi bentuk seperti ini ternyata masih dapat ditoleransi oleh analisis statistik sehingga p yang dimiliki masih lebih besar dari 0.1.
Dari grafik ini kita juga dapat melihat ada satu data ekstrim yang nilainya kurang dari 80 (data paling atas). Melihat situasi ini kita perlu berhati-hati dalam melakukan analisis berikutnya.
  • Normal Q-Q Plots. Grafik Q-Q plots akan terlihat seperti ini:

Garis diagonal dalam grafik ini menggambarkan keadaan ideal dari data yang mengikuti distribusi normal. Titik-titik di sekitar garis adalah keadaan data yang kita uji. Jika kebanyakan titik-titik berada sangat dekat dengan garis atau bahkan menempel pada garis, maka dapat kita simpulkan jika data kita mengikuti distribusi normal.
Dalam grafik ini kita lihat juga satu titik yang berada sangat jauh dari garis. Ini adalah titik yang sama yang kita lihat dalam stem and leaf plots. Keberadaan titik ini menjadi peringatan bagi kita untuk berhati-hati melakukan analisis berikutnya.

  • Detrended Normal Q-Q Plots. Grafik ini terlihat seperti di bawah ini:
Grafik ini menggambarkan selisih antara titik-titik dengan garis diagonal pada grafik sebelumnya. Jika data yang kita miliki mengikuti distribusi normal dengan sempurna, maka semua titik akan jatuh pada garis 0,0. Semakin banyak titik-titik yang tersebar jauh dari garis ini menunjukkan bahwa data kita semakin tidak normal. Kita masih bisa melihat satu titik 'nyeleneh' dalam grafik ini (sebelah kiri bawah).

Sekilas Mengenai Outlier
Dari tadi kita membahas satu titik nyeleneh di bawah sana, tapi itu sebenarnya apa? Dan bagaimana kita tahu itu subjek yang mana?

Titik 'nyeleneh' ini sering juga disebut Outlier. Titik yang berada nun jauh dari keadaan subjek lainnya. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan munculnya outlier ini:
  1. Kesalahan entry data.
  2. Keadaan tertentu yang mengakibatkan error pengukuran yang cukup besar (misal ada subjek yang tidak kooperatif dalam penelitian sehingga mengisi tes tidak dengan sungguh-sungguh)
  3. Keadaan istimewa dari subjek yang menjadi outlier.
Jika outlier disebabkan oleh penyebab no 1 dan 2, maka outlier dapat dihapuskan dari data. Tetapi jika penyebabnya adalah no 3, maka outlier tidak dapat dihapuskan begitu saja. Kita perlu melihat dan mengkajinya lebih dalam subjek ini.

Lalu bagaimana tahu subjek yang mana yang menjadi outlier? Kita bisa melihat pada grafik berikutnya yang dihasilkan dari analisis yang sama, grafik boxplot seperti berikut ini:


Sebelum terjadi kesalahpahaman saya mau meluruskan dulu bahwa tulisan C10,Q1, Median, Q3 dan C90 itu hasil rekaan saya sendiri. SPSS tidak memberikan catatan seperti itu dalam hasil analisisnya. Grafik ini memberi gambaran mengenai situasi data kita dengan menyajikan 5 angka penting dalam data kita yaitu: C10 (percentile ke 10), Q1 (kuartil pertama atau percentil ke 25), Median (yang merupakan kuartil kedua atau percentile 50), Q3 (atau kuartil ketiga atau percentile 75) dan C90 (percentile ke 90).

Selain itu dalam data ini kita juga dapat melihat subjek yang menjadi outlier, dan SPSS memberitahu nomor kasus dari subjek kita ini; yaitu no 3. Jadi jika kita telusuri data kita dalam file SPSS, kita akan menemukan subjek no 3 ini yang menjadi outlier dalam data kita.

Catatan akhir: Sangat penting bagi kita untuk tidak sepenuhnya bergantung pada hasil analisis statistik dalam bentuk angka. Kita juga perlu untuk 'melihat' (dalam arti yang sebenarnya) data kita dalam bentuk grafik bahkan keadaan data kita dalam worksheet SPSS untuk memeriksa kejanggalan-kejanggalan yang mungkin terjadi.

Sabtu, September 15, 2007

Uji Asumsi 1 Revised : Isu Seputar Uji Normalitas

Saya sempat ingin merevisi secara langsung post saya mengenai Uji Asumsi 1 karena ada beberapa pemikiran tradisional di sana yang menurut saya kurang pas sekarang, seperti pemilihan nilai signifikasi. Tapi kemudian saya putuskan untuk menulis satu post sendiri agar pembaca bisa membandingkannya dengan post saya terdahulu, sehingga tahu mana yang saya anggap kurang pas. Saya dengan sengaja juga mengubah tanggal post terdahulu supaya bisa berdekatan dengan post yang ini, dengan harapan bisa mengurangi diskontinuitas pembahasan.

Jadi ada masalah apa dengan post terdahulu?

Memilih Nilai Alpha

Dalam post terdahulu saya menuliskan bahwa taraf signifikasi yang digunakan untuk menguji asumsi normalitas sebaran adalah 0,05. Ini adalah taraf signifikasi yang sering juga digunakan dalam praktek penelitian selama ini. Pemilihan taraf signifikasi sebesar ini kurang tepat. Alasan utamanya terkait dengan error tipe II. Saya akan membahas singkat mengenai error tipe I dan II dan hubungan antara keduanya sebelum mengajukan pendapat saya mengenai berapa besar taraf signifikasi yang bisa dipakai.

Error dalam pengambilan keputusan

Ketika kita mengambil keputusan terkait dengan penolakan hipotesis nol, kita selalu akan melakukan satu di antara dua tipe error ini. Tipe error I adalah tipe error yang paling sering kita jumpai (kita sering menganggapnya sebagai taraf signifikasi:"signifikan dengan taraf..."). Dinyatakan juga dengan lambang alpha merupakan besarnya kemungkinan kita menolak hipotesis nol yang benar. Misalnya begini, dalam sebuah penelitian untuk menguji efektivitas pelatihan, peneliti melakukan uji statistik dengan alpha sebesar 0,05. Setelah dilakukan analisis, ditemukan bahwa hipotesis nol ditolak dengan alpha sebesar 0,05. Ini berarti sebenarnya kita masih punya kemungkinan atau kans melakukan kesalahan sebesar 5% bahwa sebenarnya hipotesis nol yang kita tolak itu benar. Jadi seharusnya kita tidak menolak hipotesis nol ini. Nah karena kemungkinan melakukan kesalahan ini 'hanya' 5%, maka kita masih cukup pede untuk berpegang pada kesimpulan bahwa hipotesis nol ditolak.
Tipe Error II diberi lambang Beta adalah kemungkinan kita gagal menolak hipotesis nol yang seharusnya ditolak. Maksudnya begini, dalam penelitian tadi misalnya ternyata hipotesis nol gagal ditolak. Ketika hipotesis nol gagal ditolak, sebenarnya keputusan ini juga memiliki kemungkinan error, bahwa sebenarnya mungkin saja hipotesis nol seharusnya ditolak.

Mari saya beri ilustrasi mengenai Tipe Error II. Ilustrasi ini sering saya pakai di kelas : Pada suatu hari tertangkaplah seorang maling. Setelah diinterogasi, si maling mengaku kalau dia adalah mahasiswa Universitas ANU. Dia tidak membawa kartu pengenal apapun. Kemudian dia ditanya nomor mahasiswanya untuk dicocokkan dengan nomor mahasiswa di universitas ANU. Kemudian dia menyebutkan dengan benar sebuah nomor mahasiswa. Pertanyaan yang muncul: benarkah orang ini salah satu mahasiswa universitas tersebut? Asumsi di balik perilaku menanyakan nomor mahasiswa mungkin kurang lebih seperti ini: kecil kemungkinan orang yang bukan mahasiswa sebuah universitas mengetahui secara tepat nomor mahasiswanya, apalagi pas dengan nama mahasiswanya. Jadi kita gagal menolak bahwa orang ini bukan mahasiswa universitas ANU.Tapi sebenarnya orang ini mengetahui nama dan nomor mahasiswa dari KTM yang dia temukan dalam dompet yang dia copet. Jadi seharusnya kita menolak hipotesis nol yang menyatakan orang ini adalah mahasiswa ANU, tapi kita gagal menolaknya.

Demikian juga dengan Tipe error II. Tipe error II terjadi ketika seharusnya kita menolak hipotesis nol tapi gagal menolaknya.

Hubungan antara Tipe error I dan Tipe error II. Tipe error I dan II saling bertolak belakang. Maksudnya jika kita memperkecil Tipe error I maka secara otomatis tipe error II akan menjadi lebih besar. Sayangnya sampai sekarang kita belum dapat menentukan dengan pasti (dengan cara yang mudah) besarnya tipe error II yang dibuat dalam suatu penelitian. Jadi sampai sekarang aturan ini yang dipegang. Semakin kecil kita menentukan Tipe error I, maka makin besar kemungkinan kita melakukan tipe error II.

Terus pilih mana Tipe error I atau II? Karena kita nggak mungkin terlepas dari kedua error ini (memperkecil yang satu memperbesar yang lain), maka kita harus memilih error yang kita ijinkan menjadi lebih besar. Misalnya begini : kita ingin menentukan apakah seseorang memiliki kecenderungan bunuh diri atau tidak. Kita memiliki data mengenai perilaku-perilaku yang menunjukkan kemungkinan orang yang akan melakukan bunuh diri. Ketika kita melihat seseorang melakukan perilaku-perilaku ini, kita harus memilih untuk menganggap orang ini termasuk orang yang akan bunuh diri tapi sebenarnya tidak (gagal menolak hipotesis nol yang seharusnya ditolak, tipe error II), atau menganggap orang ini baik-baik saja tapi sebenarnya akan bunuh diri (menolak hipotesis nol yang benar, tipe error I). Jadi pemilihan tipe error I atau II sangat terkait dengan resiko apa yang akan kita tanggung dengan melakukan kesalahan ini.
Mana yang lebih baik menyatakan suatu terapi itu dapat membuat perbedaan antara yang menerima dan yang tidak padahal tidak ada efeknya (menolak hipotesis nol yang benar,tipe error I) atau menganggap terapi ini tidak efektif padahal sebenarnya dapat membuat perbedaan (gagal menolak hipotesis nol yang salah)?

Hubungannya dengan Uji Asumsi?
Begini : dalam uji asumsi kita ingin membuktikan apakah sebaran data yang kita miliki itu mengikuti kurve normal atau tidak. Dalam hal ini hipotesis nolnya berbunyi: "tidak ada perbedaan antara sebaran data yang kita miliki dengan sebaran data yang normal". Jika p lebih kecil dari alpha yang kita tentukan maka kita akan menolak hipotesis nol ini sehingga disimpulkan data kita tidak normal. Jika p lebih besar dari alpha yang kita tentukan kita akan gagal menolak hipotesis nol, sehingga disimpulkan data kita normal.
Nah dalam kasus ini, mana yang lebih riskan: melakukan tipe error I (menganggap data kita tidak normal padahal normal) atau melakukan tipe error II (menganggap data normal padahal tidak normal). Menurut pendapat saya jauh lebih riskan melakukan tipe error II daripada tipe error I. Jika kita menentukan alpha yang kecil, berarti beta akan semakin besar. Dengan kata lain makin besar kemungkinan kita menganggap data kita normal padahal tidak normal.
Kita tahu bahwa normalitas sebaran merupakan salah satu asumsi yang mendasari pengujian parametrik, sehingga kita perlu memiliki keyakinan cukup besar mengenai kondisi data kita yang sebenarnya. Oleh karena itu akan lebih baik jika kita memperbesar nilai alpha menjadi 0,10 (dengan demikian memperkecil beta). Sehingga data kita baru bisa dianggap normal jika p lebih besar dari 0,1.

Rasanya memang sedikit aneh karena kita terbiasa menguji dengan taraf 0,05 untuk segala macam bentuk hipotesis. Tapi demikian pendapat saya dan alasan saya menggunakan taraf 0,1 untuk menguji hipotesis nol terkait dengan asumsi normalitas.

Fiuhh.... baiklah untuk menghilangkan kepenatan teman-teman bisa melihat klip yang kereeen abeees berikut ini:
Il divo dan Celine Dion

Jumat, September 14, 2007

Uji Asumsi 1 : Uji Normalitas

Setelah cukup lama bingung pilih-pilih tema yang mau diangkat perdana, saya akhirnya mencoba memilih satu tema ini : Uji Asumsi Statistik Parametrik. Uji Asumsi yang pertama akan saya bahas adalah Uji Normalitas.

Apa itu ?

Kita mulai dulu dari apa itu uji normalitas. Uji normalitas adalah uji yang dilakukan untuk mengecek apakah data penelitian kita berasal dari populasi yang sebarannya normal. Uji ini perlu dilakukan karena semua perhitungan statistik parametrik memiliki asumsi normalitas sebaran. Formula/rumus yang digunakan untuk melakukan suatu uji (t-test misalnya) dibuat dengan mengasumsikan bahwa data yang akan dianalisis berasal dari populasi yang sebarannya normal. Ya bisa ditebak bahwa data yang normal memiliki kekhasan seperti mean, median dan modusnya memiliki nilai yang sama. Selain itu juga data normal memiliki bentuk kurva yang sama, bell curve. Nah dengan mengasumsikan bahwa data dalam bentuk normal ini, analisis statistik baru bisa dilakukan.

Bagaimana Caranya?
Ada beberapa cara melakukan uji asumsi normalitas ini yaitu menggunakan analisis Chi Square dan Kolmogorov-Smirnov. Bagaimana analisisnya untuk sementara kita serahkan pada program analisis statistik seperti SPSS dulu ya. Tapi pada dasarnya kedua analisis ini dapat diibaratkan seperti ini :

1. pertama komputer memeriksa data kita, kemudian membuat sebuah data virtual yang sudah dibuat normal.

2. kemudian komputer seolah-olah melakukan uji beda antara data yang kita miliki dengan data virtual yang dibuat normal tadi.

3. dari hasil uji beda tersebut, dapat disimpulkan dua hal :
    • jika p lebih kecil daripada 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa data yang kita miliki berbeda secara signifikan dengan data virtual yang normal tadi. Ini berarti data yang kita miliki sebaran datanya tidak normal.
    • jika p lebih besar daripada 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa data yang kita miliki tidak berbeda secara signifikan dengan data virtual yang normal. Ini berarti data yang kita miliki sebaran datanya normal juga.

Ukuran inilah yang digunakan untuk menentukan apakah data kita berasal dari populasi yang normal atau tidak.

Bagaimana Jika Tidak Normal?
Tenang...tenang... data yang tidak normal tidak selalu berasal dari penelitian yang buruk. Data ini mungkin saja terjadi karena ada kejadian yang di luar kebiasaan. Atau memang kondisi datanya memang nggak normal. Misal data inteligensi di sekolah anak-anak berbakat (gifted) jelas tidak akan normal, besar kemungkinannya akan juling positif.
Lalu apa yang bisa kita lakukan?

1. Kita perlu ngecek apakah ketidaknormalannya parah nggak. Memang sih nggak ada patokan pasti tentang keparahan ini. Tapi kita bisa mengira-ira jika misalnya nilai p yang didapatkan sebesar 0,049 maka ketidaknormalannya tidak terlalu parah (nilai tersebut hanya sedikit di bawah 0,05). Jika ketidaknormalannya tidak terlalu parah lalu kenapa? Ada beberapa analisis statistik yang agak kebal dengan kondisi ketidaknormalan ini (disebut memiliki sifat robust), misalnya F-test dan t-test. Jadi kita bisa tetap menggunakan analisis ini jika ketidaknormalannya tidak parah.

2. Kita bisa membuang nilai-nilai yang ekstrem, baik atas atau bawah. Nilai ekstrem ini disebut outliers. Pertama kita perlu membuat grafik, dengan sumbu x sebagai frekuensi dan y sebagai semua nilai yang ada dalam data kita (ini tentunya bisa dikerjakan oleh komputer). Nah dari sini kita akan bisa melihat nilai mana yang sangat jauh dari kelompoknya (tampak sebagai sebuah titik yang nun jauh di sana dan nampak terasing...sendiri...). Nilai inilah yang kemudian perlu dibuang dari data kita, dengan asumsi nilai ini muncul akibat situasi yang tidak biasanya. Misal responden yang mengisi skala kita dengan sembarang yang membuat nilainya jadi sangat tinggi atau sangat rendah.

3. Tindakan ketiga yang bisa kita lakukan adalah dengan mentransform data kita. Ada banyak cara untuk mentransform data kita, misalnya dengan mencari akar kuadrat dari data kita, dll.

4. Bagaimana jika semua usaha di atas tidak membuahkan hasil dan hanya membuahkan penyesalan (wah..wah.. nggak segitunya kali ya?) . Maka langkah terakhir yang bisa kita lakukan adalah dengan menggunakan analisis non-parametrik. Analisis ini disebut juga sebagai analisis yang distribution free. Sayangnya analisis ini seringkali mengubah data kita menjadi data yang lebih rendah tingkatannya. Misal kalo sebelumnya data kita termasuk data interval dengan analisis ini akan diubah menjadi data ordinal.
Well, demikian kiranya paparan atau sharing tentang normalitas. Semoga dalam waktu dekat saya bisa tahu gimana caranya meng-upload gambar ke dalam blog ini dalam posisi yang manis jadi penjelasan saya bisa jadi lebih visualized gitu deh. Semoga juga saya juga bisa segera mengubah tampilan SPSS menjadi JPG, jadi kita bisa belajar baca hasil analisis di blog ini, OK? Semoga..... (kayak lagunya katon nih)

Minggu, Agustus 26, 2007

Korelasi Bagian I: Apa itu Korelasi

Korelasi atau Regresi? Pertanyaan seperti ini sering muncul ketika peneliti akan melakukan analisis statistik untuk melihat hubungan antar variabel. Jawaban yang sering saya dengar adalah: "Kalau korelasi itu untuk dua variabel, satu variabel independen dan satu variabel dependen.Sementara kalo regresi itu untuk lebih dari dua variabel, lebih dari satu variabel independen dan satu variabel dependen."

Ungkapan ini tidak sepenuhnya salah, karena regresi memang bisa digunakan untuk melihat hubungan antara lebih dari satu variabel independen dengan satu variabel dependen. Masalahnya adalah ungkapan ini tidak menggambarkan perbedaan utama antara regresi dan korelasi. Regresi juga bisa digunakan untuk menganalisis hubungan antara satu variabel independen dengan satu variabel dependen. Selain itu diperoleh kesan bahwa kedua teknik ini berbeda hanya pada tataran jumlah variabel yang ditangani, padahal perbedaan keduanya lebih dari itu.

Apa itu Korelasi?

Mungkin sebelum kita sampai ke sana, kita perlu membahas terlebih dulu apa itu teknik korelasi. Teknik korelasi merupakan teknik analisis yang melihat kecenderungan pola dalam satu variabel berdasarkan kecenderungan pola dalam variabel yang lain. Maksudnya, ketika satu variabel memiliki kecenderungan untuk naik maka kita melihat kecenderungan dalam variabel yang lain apakah juga naik atau turun atau tidak menentu. Jika kecenderungan dalam satu variabel selalu diikuti oleh kecenderungan dalam variabel lain, kita dapat mengatakan bahwa kedua variabel ini memiliki hubungan atau korelasi.

Ketika berbicara mengenai korelasi, biasanya orang (mahasiswa atau peneliti) akan berbicara mengenai korelasi antara dua atau lebih variabel yang memiliki skala pengukuran interval bukan kategorik. Sebenarnya pengertian korelasi juga dapat digunakan untuk menganalisis hubungan antara dua atau lebih variabel yang memiliki skala pengukuran kategorik. Tapi untuk sementara kita sisihkan dulu saja pembahasannya agar tidak terlalu rumit.

Angka yang digunakan untuk menggambarkan derajat hubungan ini disebut koefisien korelasi dengan lambang rxy. Teknik yang paling sering digunakan untuk menghitung koefisien korelasi selama ini adalah teknik Korelasi Product Momen Pearson. Teknik ini sebenarnya tidak terbatas untuk menghitung koefisien korelasi dari variabel dengan skala pengukuran interval saja, hanya saja interpretasi dari hasil hitungnya harus dilakukan dengan hati-hati.

Pemikiran utama korelasi product momen adalah seperti ini:
  • Jika kenaikan kuantitas dari suatu variabel diikuti dengan kenaikan kuantitas dari variabel lain, maka dapat kita katakan kedua variabel ini memiliki korelasi yang positif. Jika kenaikan kuantitas dari suatu variabel sama besar atau mendekati besarnya kenaikan kuantitas dari suatu variabel lain dalam satuan SD, maka korelasi kedua variabel akan mendekati 1.
  • Jika kenaikan kuantitas dari suatu variabel diikuti dengan penurunan kuantitas dari variabel lain, maka dapat kita katakan kedua variabel ini memiliki korelasi yang negatif. Jika kenaikan kuantitas dari suatu variabel sama besar atau mendekati besarnya penurunan kuantitas dari variabel lain dalam satuan SD, maka korelasi kedua variabel akan mendekati -1.
  • Jika kenaikan kuantitas dari suatu variabel diikuti oleh kenaikan dan penurunan kuantitas secara random dari variabel lain atau jika kenaikan suatu variabel tidak diikuti oleh kenaikan atau penurunan kuantitas variabel lain (nilai dari variabel lain stabil), maka dapat dikatakan kedua variabel itu tidak berkorelasi atau memiliki korelasi yang mendekati nol.
Dari pemikiran ini kemudian lahirlah Rumus Korelasi Product Momen Pearson seperti yang sering kita lihat di buku. Ada beberapa rumus yang dapat diacu. Semuanya akan memberikan hasil r yang sama, hanya saja dengan melihatnya kita akan dapat melihat pemaknaan yang berbeda-beda.

Rumus pertama :
Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari rumus ini :
  1. Jika setiap subjek yang memiliki nilai X lebih rendah dari meannya, memiliki nilai Y yang juga lebih rendah dari meannya, nilai r akan menjadi positif. Begitu juga jika setiap subjek yang memiliki nilai X lebih tinggi dari meannya, memiliki nilai Y yang lebih tinggi dari meannya.
  2. Jika setiap subjek yang memiliki nilai X yang lebih tinggi dari meannya, memiliki nilai Y yang lebih rendah dari meannya maka nilai r akan menjadi negatif. Begitu juga jika tiap subjek yang memiliki nilai X lebih rendah dari meannya memiliki nilai Y yang lebih tinggi dari meannya.
  3. Jika tiap nilai X yang lebih tinggi dari meannya terkadang diikuti oleh nilai Y yang lebih tinggi terkadang lebih rendah dari meannya maka nilai r akan cenderung mendekati 0 (nol).
Rumus Kedua
Nah dari rumus kedua ini dapat kita simpulkan bahwa nilai korelasi sebenarnya nilai kovarian dari dua variabel x dan y yang distandardkan dengan menggunakan standard deviasi x dan standard deviasi y sebagai denominatornya. Mengapa nilai kovarian perlu distandardkan? (ada yang bertanya apa itu kovarian? lihat di posting berikutnya ya...). Nilai kovarian sangat dipengaruhi oleh satuan skala yang digunakan oleh kedua variabel. Misalnya kita menghitung kovarian dari tinggi badan dengan panjang rambut , pengen tahu apakah tinggi badan berkorelasi dengan panjang rambut (iseng banget yak...). Kita menghitung tinggi badan dan panjang rambut dalam satuan meter. Kemudian kita hitung kovariannya. Setelah itu kita menggunakan data yang sama, hanya mengubah satuannya menjadi centimeter, lalu menghitung kovariannya. Nah kovarian dari hasil perhitungan kedua akan terlihat lebih besar daripada yang pertama.
Lebih besar? Ya karena dengan menggunakan satuan centimeter, 1.4 meter akan menjadi 140 centimeter. Jika kita hitung kovariannya, perhitungan pertama akan menghitung dalam skala satuan (1.4, 1.5, dst) sementara perhitungan kedua akan menghitung dalam skala ratusan.
Oleh karena itu perlu distandardkan agar data yang sama akan menghasilkan angka yang sama meskipun diubah skalanya.

Rumus Ketiga
Rumus ketiga ini agak sulit ceritanya. Kalo nggak hati-hati bisa dimarah-marah sama Pedhazur (Pedhazur, 1997) soalnya. Begini:
  • Zx dan Zy itu berbicara mengenai nilai X dan Y dalam satuan SD.
  • Jika nilai X ada di bawah mean dari X maka nilai Zx akan negatif, jika nilai X ada di atas meannya maka nilai Zx akan positif. Begitu juga dengan Y.
  • Seperti pada rumus pertama, jika Zx dan Zy sepakat (keduanya positif atau negatif) maka nilai r akan positif. Jika Zx dan Zy berlawanan (jika yang satu positif yang lain negatif) maka nilai r akan negatif.
  • Nah misalnya ada seratus subjek memiliki nilai X dan Y. Lalu kita hitung satu-satu nilai Z dari X dan Y untuk tiap subjek. Tentu saja ada beberapa yang sangat sepakat yang lain agak sepakat yang beberapa berlawanan. Kemudian nilai-nilai Z ini dijumlahkan sehingga jika yang sepakat lebih banyak akan menghasilkan angka positif. Kalo yang berlawanan lebih banyak akan menghasilkan angka negatif. Kemudian hasil penjumlahan ini dicari rata-ratanya.
  • Jadi bisa dibilang nilai r itu akan menggambarkan rata-rata keadaan X dan Y dari semua subjek dalam kelompok.
  • Ribet ya? OK...OK... contohnya begini : misalnya ada sekelompok orang di stadion. Beberapa dari mereka (misalnya 80 orang) mengenakan baju hijau dan celana hijau, sisanya baju hijau celana merah (idih norak banget yak...). Kalo kamu ditanya bagaimana pakaian mereka? kita bisa bilang kebanyakan berpakaian sepakat hijau-hijau, karena tingkat kesepakatan hijau-hijau lebih dominan. Jadi bisa dibilang korelasi baju dan celana di kelompok itu positif. Semoga bisa lebih jelas ya. Fiuhh...
Rumus Keempat
Rumus keempat?!!! Hehe cuma bercanda kok. Nggak usah emosi gitu dong.

Ya saya cuma menyajikan tiga rumus aja. Semuanya menghasilkan nilai r yang sama persis (kalo sampe beda pasti ada kesalahan dengan kalkulatornya...). Hanya saja dari tiap rumus kita bisa melihat atau mempelajari interpretasi yang berbeda dari nilai r.

Oke yang dah bosen bisa lihat klip di bawah ini, dua-duanya idola saya :



Further Study:
Howell, D.C.(1984) Statistical methods for psychology. London : Duxbury Press

Pedhazur,E.J.(1997) Multiple regression in behavioral research. Wadsworth:Thomson Learning

Senin, Juni 25, 2007

Korelasi Item Total = Valliditas Item?

Hai! jumpa lagi ya dengan saya. Kali ini saya ingin membahas masalah satu ini nih. Seringkali terdengar entah dalam pembicaraan skripsi atau penelitian,
"Validitasnya antara 0,3 - 0,9".
"Validitas pake apa nih?"
"Validitas item."
Setelah dicek lebih jauh yang dimaksud dengan validitas item adalah korelasi item total. Apakah memang demikian adanya : korelasi item total dapat menggambarkan validitas item?

Ada beberapa pendapat mengenai hal ini :
  1. Korelasi item-total tidak dapat dianggap sebagai validitas. Validitas tes merupakan ukuran seberapa jauh sebuah tes mampu mengukur konstruk yang ingin diukur. Kita akan membutuhkan kriteria luar untuk mengujinya. Jadi tidak mungkin menggunakan kriteria di dalam tes itu sendiri (dalam hal ini skor total tes) untuk menguji validitas tes. Bayangkan misalnya ada sebuah alat yang diklaim sebagai alat untuk mengukur berat badan seseorang. Bagaimana kita yakin bahwa alat tersebut memang mengukur berat badan? Kita tidak mungkin melakukannya hanya dengan melihat angka yang dihasilkan alat itu, bukan? Kita harus membandingkannya dengan kriteria lain di luar alat tersebut. Kriteria ini bisa alat lain yang sudah dipastikan kebenarannya mengukur berat badan atau bentuk tubuh orang yang diukur berat badannya.
  2. Korelasi item-total dapat dianggap sebagai ukuran validitas item. Pengertian validitas mencakup akurasi. Jadi bukan hanya seberapa mampu tes mengukur konstruk yang ingin diukur tapi juga seberapa tepat (akurasi). Kurang tepat kiranya mengukur panjang bakteri menggunakan penggaris dengan ukuran centimeter, karena kita tidak akan memperoleh gambaran cukup akurat mengenai panjang bakteri satu dengan yang lain.
    Dengan kata lain, kita tidak memiliki kemampuan mendiskriminasi (membedakan) panjang bakteri satu dengan yang lain. Oleh karena itu pengukuran perlu juga diuji kemampuannya dalam membedakan orang yang satu dengan yang lain. Nah, estimasi daya diskriminasi ini dapat diperoleh melalui korelasi item-total.
  3. Korelasi item-total dapat memberikan gambaran validitas sejauh skor total tes itu sendiri sudah teruji validitasnya. Atau dengan kata lain, korelasi item-total memberikan informasi seberapa jauh suatu item mengukur apa yang diukur oleh skor totalnya. Jadi jika skor total tes tersebut mengukur kecemasan, maka jika korelasi item total suatu item tinggi (duh beribet banget ya..) kita dapat menyimpulkan bahwa item tersebut juga mengukur kecemasan.
Jadi betul nggak korelasi item-total = validitas item? Menurut saya tergantung bagaimana cara pandangmu terhadap korelasi item-total. Maksud saya, apapun label yang kamu berikan (validitas atau daya diskriminasi dsb) yang lebih penting adalah mengetahui apa yang sebenarnya "diceritakan" oleh korelasi item-total.

Jadi apa yang sebenarnya diceritakan oleh Korelasi Item-Total?Korelasi item-total menggambarkan hubungan antara item dengan total.
  • Jika koefisien yang dihasilkan bernilai negatif, ini berarti semakin tinggi skor item akan diikuti oleh semakin rendahnya skor total. Jadi item tersebut memberikan keterangan yang menyesatkan mengenai keadaan subjek. Dapat juga kita katakan bahwa item itu tidak selaras atau memberikan kontribusi yang merusak kualitas skor total (kualitas yang dimaksud di sini adalah reliabilitas tes). Oleh karena itu item-item ini perlu dibuang agar tidak merusak tes.
  • Jika koefisien yang dihasilkan bernilai positif, ini berarti semakin tinggi skor item akan diikuti oleh semakin tinggi skor totalnya. Item tersebut memberikan keterangan yang akurat mengenai keadaan subjek dan dapat membedakan subjek dengan kemampuan tinggi dan subjek dengan kemampuan rendah. Dapat juga dikatakan item tersebut selaras dengan skor totalnya atau berbicara mengenai hal yang sama dengan totalnya dan memberikan kontribusi yang meningktatkan kualitas skor total.
  • Jika koefisien yang dihasilkan mendekati nol (0) maka item itu tidak memberikan informasi apapun mengenai seseorang. Saya sering menyebutnya item mubazir. Keberadaannya tentu saja juga dapat mengurangi kualitas tes. Oleh karena itu item-item ini perlu diperbaiki atau dibuang.
Oke deh segini dulu ya. Saya bertanya-tanya mengapa sampai hari ini sangat jarang orang yang membaca blog ini. Well saya belum mau menyerah. Someday...Someday...

    Kamis, Juni 07, 2007

    Reliabel Haruskah Ajeg? Pengertian Reliabilitas Pengukuran

    Sering kita dengar baik dalam kuliah atau dalam ruang ujian, jawaban mahasiswa terhadap pertanyaan "Apa yang dimaksud reliabilitas?" seperti ini :
    "Taraf Kepercayaan, yaitu seberapa besar tes dapat dipercaya. Tes yang reliabel akan menghasilkan skor yang relatif sama jika diteskan beberapa kali pada subjek yang sama . Dengan kata lain seberapa ajeg sebuah tes jika diteskan beberapa kali pada subjek yang sama di waktu yang berbeda."

    Jika demikian adanya, maka secara logis, satu-satunya cara untuk mengestimasi reliabilitas adalah dengan melakukan pengetesan paling tidak dua kali pada sekelompok subjek yang sama. Tapi benarkah begitu?

    Pada prakteknya kita mengenal paling tidak ada 3 pendekatan terhadap estimasi reliabilitas. Dan orang yang memberikan jawaban seperti di atas juga memilih metode estimasi reliabilitas yang hanya melakukan 1 kali administrasi tes. Jadi mana tingkat keajegannya?

    Well, mungkin beberapa orang tidak terlalu peduli dengan hal ini. Yang penting ada angka reliabilitasnya, habis perkara. Tapi ijinkan saya mencoba berbagi pemikiran mengenai hal ini.

    ReliabilitasKita mulai dari konsep reliabilitas dulu. Reliabilitas seperti yang sering diucapkan atau ditulis di buku, memiliki arti tingkat kepercayaan. Kita coba pilah kata ini menjadi Rely dan Ability atau dapat dipercaya. Tapi apa maksud dari dapat dipercaya ini? Yang dimaksud dapat dipercaya disini adalah seberapa besar kita bisa mempercayai hasil tes yang kita dapatkan, atau juga seberapa besar tingkat kesalahan yang muncul ketika seseorang mengerjakan suatu tes. Semakin besar tingkat kesalahan yang muncul ketika seseorang mengerjakan suatu tes, hasil yang diperoleh dari tes tersebut makin tidak dapat dipercaya, makin tidak reliabel.

    Misalnya: seseorang dites (tes apa saja, karena reliabilitas tidak terlalu peduli dengan isu materi yang diteskan) kemudian memperoleh hasil sebesar 100. Nah jika tes tersebut reliabel, maka kita bisa yakin bahwa kapasitas orang tersebut memang 100. Atau dengan kata lain, angka 100 itu diperoleh bukan karena faktor lain selain kapasitas orang tersebut. Jika angka 100 ini diperoleh lebih banyak karena faktor lain (faktor lain ini yang disebut error), maka kita akan berkata bahwa tes tersebut tidak reliabel.

    Konsep reliabilitas didasarkan pada asumsi bahwa dalam tiap pengetesan selalu ada
    • X, skor yang kita peroleh dari hasil pengetesan (skor Tampak)
    • T, skor yang menggambarkan kapasitas seseorang yang sesungguhnya (skor Murni)
    • e, faktor lain selain kapasitas yang juga menyumbang terhadap perolehan X yang disebut juga error
    dan ketiganya terkait satu sama lain dalam persamaan seperti ini :
    X = T + e
    Ini dapat dibaca seperti berikut : dalam setiap pengetesan, hasil tes yang kita peroleh merupakan fungsi penjumlahan dari skor Murni dan error. Tes dapat dikatakan reliabel jika Tes menghasilkan error yang kecil, sehingga hasil tes makin mencerminkan kapasitas yang sebenarnya (atau X = T ).

    Nah lalu dari mana ide "keajegan" muncul?

    Diasumsikan bahwa nilai T memiliki sifat ajeg dalam beberapa kali pengukuran pada subjek yang sama. Tapi keajegan ini hanya ada dalam abstraksi teoretik saja, karena keajegan yang dimaksud di sini adalah keajegan T jika memenuhi syarat tertentu :
    • tiap pengetesan bersifat saling independen, pengukuran pertama tidak mempengaruhi pengukuran berikutnya. Jadi anggaplah seseorang dites lalu dihipnotis untuk membuatnya lupa dengan jawaban dan soal yang telah diberikan.
    • Kapasitas orang itu sendiri belum berubah. Jadi keajegan ini hanya mungkin jika setelah dites, orang ini dimasukkan dalam mesin waktu dan dikembalikan ke keadaannya saat dites pertama kali.
    Mustahil? Ya jelas! maka dari itu ide mengenai keajegan ini hanya ada dalam abstraksi teoretik.

    Namun demikian tentu saja kita tetap dapat mengestimasi reliabilitas dengan cara melakukan tes berulang lalu mengkorelasikan hasil tes pertama dengan tes kedua. Dengan mempertimbangkan beberapa kelemahan dan persyaratannya.

    Pendekatan-Pendekatan Estimasi ReliabilitasDari beberapa asumsi yang mendasari pemikiran mengenai reliabilitas, kemudian diturunkanlah beberapa pendekatan untuk mengestimasi reliabilitas.
    • Pendekatan Tes-Retes. pendekatan ini mengestimasi reliabilitas tes dengan melakukan tes ulang, kemudian mengkorelasikan hasil tes pertama dengan hasil tes kedua. Hasil korelasi ini yang merupakan estimasi reliabilitasnya, sering juga disebut sebagai koefisien stabilitas atau keajegan. Jadi definisi reliabilitas =keajegan hanya berlaku untuk pendekatan ini. Tapi tentu saja karena tidak mungkin memenuhi persyaratan di atas, pendekatan ini memiliki beberapa kelemahan
      • hanya dapat diterapkan pada tes yang mengukur konstruk yang bersifat cenderung ajeg, misalnya kepribadian.
      • estimasi reliabilitas akan dipengaruhi oleh adanya carry over effect. Maksudnya, jika jarak pengetesan pertama dan kedua sangat dekat, maka subyek akan cenderung mengingat jawaban yang diberikan pada pengetesan pertama. Ini membuat makin besarnya kemungkinan subyek akan memberikan jawaban pada pengetesan kedua yang cenderung sama dengan jawaban yang diberikan pada pengetesan pertama.Hal ini akan menyebabkan overestimasi reliabilitas, tes terkesan/ terlihat lebih reliabel daripada yang sebenarnya.
      • estimasi reliabilitas juga dipengaruhi adanya practice effect. Ini terjadi ketika subyek, dalam rentang waktu antara tes pertama dan kedua, belajar atau berlatih untuk meningkatkan kapasitasnya, ini terjadi khususnya dalam estimasi reliabilitas tes performansi maksimal seperti tes prestasi. Practice effect akan menyebabkan underestimasi reliabilitas, tes terkesan tidak ajeg karena adanya pembelajaran, sehingga hasil tes kedua akan cenderung lebih baik dari hasil tes pertama.
    • Pendekatan Tes Paralel, pendekatan ini mengestimasi reliabilitas dengan menggunakan dua tes paralel, dua tes yang mengukur hal /konstruk yang sama, kemudian mengkorelasikan hasil pengetesan dari tes pertama dengan hasil tes paralelnya. Koefisien korelasi yang didapatkan disebut juga koefisien ekuivalensi. Namun demikian pendekatan ini sangat jarang (kalaupun ada) dilakukan karena sulitnya menghasilkan dua tes yang benar-benar paralel.
    • Pendekatan Konsistensi Internal, pendekatan ini mengestimasi reliabilitas dengan membelah tes menjadi beberapa bagian, lalu "mengkorelasikan" bagian-bagian tersebut. "Korelasi" di sini sebenarnya tidak benar-benar mengkorelasikan bagian-bagian secara harafiah, tapi menggunakan formula-formula yang dikembangkan untuk mengestimasi reliabilitasnya. Koefisien yang diperoleh dinamai juga koefisien konsistensi internal. Pendekatan inilah yang paling sering digunakan selama ini karena lebih praktis dan ekonomis. Meskipun demikian pendekatan ini tidak dapat mengestimasi error yang diakibatkan oleh keadaan temporer karena hanya dilakukan satu kali. Jadi pendekatan ini memang bukan "jawaban terhadap segala masalah" dalam hal mengestimasi reliabilitas.
    Kesimpulan
    Jadi, reliabilitas apakah sama dengan keajegan?
    Jika kita melihat permasalahan ini dari kacamata asumsi yang mendasari pemikiran reliabilitas di atas, maka reliabel = ajeg. tentu saja dengan persyaratan yang mustahil untuk dipenuhi tadi.
    Tapi jika dilihat dalam konteks aplikasinya, reliabilitas tidak selalu sama dengan keajegan, tergantung dari pendekatan mana yang digunakan untuk mengestimasinya.

    Mungkin akan lebih aman jika kita menyebut reliabilitas sebagai "tingkat kepercayaan, seberapa jauh error yang dihasilkan dari tes, dan seberapa jauh hasil tes dapat dipercaya".

    Well that's it for now. We will continue later.

    Minggu, Oktober 15, 2006

    STOP PRESS : ASPEK, INDIKATOR, DIMENSI, FAKTOR

    Ya karena satu dan lain hal, maka saya memutuskan untuk membahas masalah ini dulu. Uji Asumsi akan kita temui lagi setelah yang ini.

    Baiklah, dalam pembuatan skala psikologis, langkah pertama yang dilakukan adalah menentukan domain pengukurannya terlebih dulu. Ketika kita menentukan domain ukur ini kita perlu menentukan aspek atau indikator dari variabel yang ingin kita ukur ini. Nah seringkali kita mengalami kebingungan membedakan antara aspek, indikator, faktor dan dimensi. Dalam artikel ini saya akan berusaha memberikan semacam batasan kasar yang mungkin dapat membantu teman-teman.

    ASPEK,INDIKATOR, DIMENSI

    Ketiga istilah ini saya jadikan satu karena ketiganya berbicara tentang isi dari suatu variabel. Mungkin akan lebih jelas jika saya memberikan contoh. Misalnya kita akan membuat skala yang mengukur kecemasan. Maka yang perlu kita tanyakan pertama adalah:Seperti apa orang yang mengalami kecemasan?
    Jawaban yang diberikan misalnya : badan gemetar, muka pucat, jantung berdebar kencang, berkeringat dingin, pikiran kacau, sulit berkonsentrasi, gelisah, perasaan tidak nyaman, dll. Jawaban-jawaban ini sebenarnya merupakan indikator dari kecemasan. Indikator mungkin dapat disamakan dengan simptom atau gejala. Indikator inilah yang kemudian menjadi item dalam skala.
    Nah jika kita amati, sebenarnya indikator-indikator tadi dapat dikelompok-kelompokkan. Misalnya badan gemetar, muka pucat, jantung berdebar dapat dijadikan satu kelompok yaitu ciri-ciri fisik. Sementara pikiran kacau, sulit berkonsentrasi dapat dijadikan satu kelompok yaitu ciri-ciri kognitif. Kelompok-kelompok inilah yang disebut aspek. Dalam prakteknya, kita biasanya menemukan aspek terlebih dulu baru kemudian menemukan/membuat indikatornya.
    Setelah item-item disusun, maka kita kemudian akan menentukan penskalaannya. Misalnya kita bisa menggunakan model penskalaan Likert, dengan kategori Selalu sampai Tidak Pernah (subjek diminta menilai frekuensi) atau kategori Sangat Kuat sampai Sangat Lemah (subjek diminta menilai intensitas kecemasan yang dirasakan). Intensitas dan frekuensi inilah yang disebut dimensi.

    Faktor
    Faktor merupakan variabel-variabel lain di luar variabel yang akan kita ukur yang mempengaruhi (mendukung atau menghambat) variabel yang akan kita ukur. Misalnya variabel yang akan kita ukur adalah kecemasan. Aspek akan berisi pengelompokan indikator/simptom. Dimensi terkait dengan dimensi pengukuran kecemasan (intensitas atau frekuensi). Faktor akan terdiri dari variabel yang mempengaruhi kecemasan, misalnya dukungan sosial, kondisi fisik, dll (jujur saja saya agak kesulitan cari faktor yang mempengaruhi kecemasan, karena saya tidak banyak mempelajari variabel ini.)

    Well demikianlah kiranya yang dapat saya bagikan tentang aspek, indikator, dimensi dan faktor. Semoga bisa membantu teman-teman semua.

    Sabtu, September 30, 2006

    Salam Perkenalan

    Hai! Bagaimana kabar kamu semua? Perkenalkan nama saya Agung Santoso. Dunia blog masih terbilang sangat baru buat saya. Alasan saya membuat blog ini, selain gratis dan kesempatan ketemu kenalan baru, juga karena keprihatinan saya (ciee...) terkait dengan teman-teman yang saat ini sedang melakukan penelitian sebagai syarat kelulusan dari suatu jenjang pendidikan tinggi (terutama S1,dan khususnya mahasiswa Fakultas Psikologi). Banyak di antara teman-teman tersebut yang kebingungan ketika berurusan dengan statistik atau pengukuran. Dan ,to make the matter worse, seringkali mereka tidak punya tempat bertanya, a friendly place to ask gitu deh.
    Nah dari situlah saya kemudian memikirkan gimana caranya agar teman-teman punya akses untuk bisa minta bantuan terkait dengan materi ini. Apakah terbatas hanya yang lagi skripsi? tentunya tidak. Dan apakah terbatas hanya pada mahasiswa psikologi? sebenarnya tidak, hanya saja saya merasa kurang pede untuk bicara statistik di luar konteks psikologi. Tapi why don't you give me a try? Ya coba saja, siapa tahu saya bisa membantu. Haruskah S1? jawabannya juga kurang lebih sama. Saya pribadi kurang pede, but give me a try.
    Selain alasan itu, saya merasa pengen banget berbagi ide-ide saya tentang statistik dan pengukuran yang saya dapatkan di kelas. Ide saya tidak selamanya berupa solusi, terkadang berupa permasalahan baru (nah lo!) yang mungkin sedang ada di kepala saya. Harapan saya kita bisa diskusikan pendapat saya dan permasalahan yang saya ajukan tersebut
    O ya, bagaimana jika ada di antara teman-teman yang pengen mengajukan pertanyaan? teman-teman bisa mengirimkan comment atau jika tidak memungkinkan (karena panjang atau saya perlu melihat hasil analisis datanya) bisa dikirimkan ke e-mail saya di agungsan_psy@yahoo.com. OK?
    Well, I hope this blog could also make the world a better place to live.