Situs Bapak sangat bermanfaat dengan materi2 yang dibutuhkan oleh para pencari ilmu. Kali ini saya mohon bantuan Bapak untuk hal berikut. Dalam beberapa paper (dengan jumlah data minim spt 10 atau 16 participants) Anova test langsung saja dilakukan meski jumlah observasinya kurang padahal dalam jumlah minimal sepengetahuan saya adalah 30 atau 100 observasi baru Anova bisa dilakukan. Untuk saya mohon bantuan Bapak, untuk menunjukan di textbook atau paper mana yang menegaskan bahwa Anova test dapat dilakukan meski jumlah observasi kurang dari 20. Kemudian kira2 apa implikasi dengan jumlah yang terbatas itu. Terima kasih banyak atas bantuannya.
Untuk Wandan: Terima Kasih... semoga berguna ya...
Untuk Pak Irfan Syamsudin, hmm... saya sendiri belum pernah menemukan buku yang 'membolehkan' analisis jika jumlah subjek sedikit, sekaligus juga buku yang mengharuskan jumlah subjek 30 atau 100. Tetapi memang biasanya untuk analisis parametrik digunakan jumlah subjek besar. Ini salah satunya untuk meningkatkan power dari analisisnya.
Untuk jumlah subjek kurang dari 20, resiko menerima hipotesis nol yang sebenarnya salah akan makin besar. Sehingga akurasi analisis jadi dipertanyakan. Khususnya lagi jika sampel berasal dari populasi yang berdistribusi tidak normal. Ini akan meningkatkan ketidakakuratan analisis.
Nah apakah boleh tetap dilakukan? Menurut saya ada baiknya untuk melakukan dua analisis, yang satu parametrik yang satu non-parametrik. Lalu dilihat apakah hasilnya sama (misalnya sama-sama H0 ditolak). Kalau sama hasilnya kita bisa menggunakan hasil dari analisis parametrik sementara jika tidak sama, hasil analisis non-parametriknya yang bisa dipercaya.
salam kenal pak agung, Saya lala mahsiswa psikologi yang sedang meencanakan sebuah penelitian.saat searching di dunia maya saya menemukan blog bapak ini. Langsung saja pak, saya ingin bertanya mengenai try out terpakai, apa saja yang menjadi syarat penggunaan try out terpakai? apakah ada referensi yang bisa saya baca mengenai hal ini? jika jumlah populasi kurang dari 30 apakah saya bisa menggunakan tryout terpakai ini?apa konsekuensinya?... maaf ya pak br kenal dah banyak bertanya. Terimakasih atas perhatian dan bantuannya
Sebelumnya ijinkan saya memposisikan diri terkait dengan tryout terpakai. Saya pribadi memandang tryout terpakai bukan praktik baik yang layak dilakukan. Namun demikian, mengingat situasi-situasi keterbatasan (khususnya dalam penelitian mahasiswa), saya menyadari bahwa tryout terpakai merupakan pilihan terbaik.
Nah, selama ini wacana mengenai tryout terpakai sepertinya tidak banyak dibahas. Tokoh yang saya anggap mencetuskan ide ini adalah Pak Sutrisno Hadi almarhum (saya rasa). Dalam literatur yang pernah saya baca, saya belum pernah menemukan syarat-syarat yang diajukan untuk ini. Termasuk mengenai jumlah subjek minimal yang diharuskan.
Pak Sutrisno Hadi (alm) pernah menulis artikel di Anima bulan Juli 2005. Ada bagian yang membahas tentang tryout terpakai.
9 comments:
sudah beli! haha...halo pak.
Yth Pak Agung,
Situs Bapak sangat bermanfaat dengan materi2 yang dibutuhkan oleh para pencari ilmu.
Kali ini saya mohon bantuan Bapak untuk hal berikut.
Dalam beberapa paper (dengan jumlah data minim spt 10 atau 16
participants) Anova test langsung saja dilakukan meski jumlah observasinya kurang padahal dalam jumlah minimal sepengetahuan saya adalah 30 atau 100 observasi baru Anova bisa dilakukan.
Untuk saya mohon bantuan Bapak, untuk menunjukan di textbook atau paper mana yang menegaskan bahwa Anova test dapat dilakukan
meski jumlah observasi kurang dari 20. Kemudian kira2 apa implikasi
dengan jumlah yang terbatas itu. Terima kasih banyak atas bantuannya.
Salam hormat
Irfan Syamsuddin
Untuk Wandan: Terima Kasih... semoga berguna ya...
Untuk Pak Irfan Syamsudin,
hmm... saya sendiri belum pernah menemukan buku yang 'membolehkan' analisis jika jumlah subjek sedikit, sekaligus juga buku yang mengharuskan jumlah subjek 30 atau 100. Tetapi memang biasanya untuk analisis parametrik digunakan jumlah subjek besar. Ini salah satunya untuk meningkatkan power dari analisisnya.
Untuk jumlah subjek kurang dari 20, resiko menerima hipotesis nol yang sebenarnya salah akan makin besar. Sehingga akurasi analisis jadi dipertanyakan. Khususnya lagi jika sampel berasal dari populasi yang berdistribusi tidak normal. Ini akan meningkatkan ketidakakuratan analisis.
Nah apakah boleh tetap dilakukan? Menurut saya ada baiknya untuk melakukan dua analisis, yang satu parametrik yang satu non-parametrik. Lalu dilihat apakah hasilnya sama (misalnya sama-sama H0 ditolak). Kalau sama hasilnya kita bisa menggunakan hasil dari analisis parametrik sementara jika tidak sama, hasil analisis non-parametriknya yang bisa dipercaya.
salam kenal pak agung,
Saya lala mahsiswa psikologi yang sedang meencanakan sebuah penelitian.saat searching di dunia maya saya menemukan blog bapak ini. Langsung saja pak, saya ingin bertanya mengenai try out terpakai, apa saja yang menjadi syarat penggunaan try out terpakai? apakah ada referensi yang bisa saya baca mengenai hal ini? jika jumlah populasi kurang dari 30 apakah saya bisa menggunakan tryout terpakai ini?apa konsekuensinya?... maaf ya pak br kenal dah banyak bertanya. Terimakasih atas perhatian dan bantuannya
salam hormat,
lala
Sebelumnya ijinkan saya memposisikan diri terkait dengan tryout terpakai.
Saya pribadi memandang tryout terpakai bukan praktik baik yang layak dilakukan. Namun demikian, mengingat situasi-situasi keterbatasan (khususnya dalam penelitian mahasiswa), saya menyadari bahwa tryout terpakai merupakan pilihan terbaik.
Nah, selama ini wacana mengenai tryout terpakai sepertinya tidak banyak dibahas. Tokoh yang saya anggap mencetuskan ide ini adalah Pak Sutrisno Hadi almarhum (saya rasa). Dalam literatur yang pernah saya baca, saya belum pernah menemukan syarat-syarat yang diajukan untuk ini. Termasuk mengenai jumlah subjek minimal yang diharuskan.
Pak Sutrisno Hadi (alm) pernah menulis artikel di Anima bulan Juli 2005. Ada bagian yang membahas tentang tryout terpakai.
mantapp pak.....
kelihatannya harus segera mencari di toko buku di sini nih...
hehe
Halo Anggit,
Terima kasih buat komentarnya. Beritahu teman-teman yang lain juga ya, hehe...
pak gmn ya cara mendapatkan bukunya? karena saya kesulitan untuk mendapatkan buku bapak. Saya sudah coba ke gramedia tapi gak ada pak. Makasih ya pak
Ervina,
Kalau boleh tahu anda ada di kota apa? Buku-buku ini bisa ditemukan di Gramedia, tetapi memang sepertinya tidak semua toko Buku Gramedia.
Kalau Ervina ada di Yogyakarta, buku ini bisa ditemukan di Bookshop Universitas Sanata Dharma, dan Toko Buku Toga Mas.
Poskan Komentar